Proyek Rehabilitasi Irigasi D.I. Tinalun Diduga Langgar Spesifikasi:

banner 468x60

Kabupaten Semarang,1pena.id — Proyek rehabilitasi jaringan irigasi D.I. Tinalun yang dibiayai APBD Kabupaten Semarang Tahun Anggaran 2025 dengan nilai kontrak Rp195.421.000 kini menjadi sorotan publik. Proyek yang mulai dikerjakan sejak 10 Oktober 2025 tersebut diduga tidak memenuhi standar teknis, mulai dari kualitas material hingga penerapan keselamatan kerja (K3).

Hasil pantauan awak media di lokasi pada Rabu (13/11/2025) menemukan sejumlah kejanggalan fisik yang dinilai tidak sesuai spesifikasi. Salah satunya adalah ketebalan pasangan batu yang melebihi standar maksimal 30 cm. Kondisi di lapangan menunjukkan ketebalan yang melampaui ketentuan teknis, bahkan penggunaan batu pun terlihat tidak seragam.

banner 336x280

“Pasangan batu ini jelas tidak sesuai dengan spesifikasi. Kualitas seperti ini bisa menurunkan kekuatan bangunan irigasi,” ujar SL (54), warga sekitar yang menyaksikan langsung proses pekerjaan.

Selain dugaan penyimpangan teknis, aspek keselamatan kerja para pekerja juga dipertanyakan. Mayoritas pekerja terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, rompi, maupun sepatu keselamatan.

“Kami khawatir keselamatan pekerja. Pekerjaan berat seperti ini wajib menggunakan APD sesuai standar K3,” tegas Bayu, Ketua KCBI (Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia) Jawa Tengah yang ikut melakukan pengawasan lapangan.

Temuan lain yang menjadi sorotan adalah campuran adukan semen yang tampak tidak sesuai komposisi. Diduga campuran dilakukan secara manual tanpa takaran tepat sehingga kualitas struktur berpotensi tidak bertahan lama.

“Campurannya terlihat tidak proporsional. Kalau dibiarkan, kekuatan bangunan bisa cepat rusak,” kata SL menambahkan.

Tidak hanya itu, pekerjaan juga dilakukan dalam kondisi tergenang air, yang jelas bertentangan dengan prosedur teknis pembangunan irigasi yang mensyaratkan area kerja dalam keadaan kering. Bahkan, lantai dasar (lean concrete) yang seharusnya menjadi pondasi awal juga tidak ditemukan di lokasi.

Proyek yang berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang ini seharusnya bertujuan meningkatkan kualitas irigasi agar bermanfaat bagi para petani. Namun, berbagai temuan di lapangan membuat masyarakat mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh.

“Kami berharap pembangunan ini bukan sekadar cepat selesai, tetapi juga kuat dan tahan lama. Jangan sampai baru beberapa bulan sudah rusak,” ujar RK, tokoh muda setempat.

Hingga berita ini terbit, belum ada pernyataan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang mengenai berbagai temuan tersebut.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan