Baru Selesai Sudah Retak Parah! Proyek P3-TGAI Rp195 Juta di Gogodalem Disorot

KABUPATEN SEMARANG | 1Pena.id — Proyek peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, menjadi sorotan setelah ditemukan keretakan pada sejumlah bagian bangunan saluran yang disebut baru selesai dikerjakan.

Tak hanya kondisi fisik bangunan, penggunaan material batu padas serta proses pencampuran pasir dan semen yang diduga tidak menggunakan takaran terukur juga menjadi perhatian dan perlu diperiksa lebih lanjut.

Berdasarkan pantauan tim 1Pena.id pada Selasa (13/10/2026), pukul 15.17–15.29 WIB, di sepanjang Jalan Gogodalem dan Jalan Salatiga–Kedungjati, terlihat sejumlah retakan pada badan saluran irigasi. Beberapa bagian beton tampak pecah, sementara celah terlihat pada pertemuan lantai dan dinding saluran.

Proyek senilai Rp195.000.000 tersebut merupakan pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Tersier D.I. Karanglo yang berlokasi di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

Berdasarkan informasi proyek yang dihimpun tim media, pekerjaan berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Satuan Kerja OP SDA Pemali Juana, dengan P3A Barokah I sebagai pelaksana.

Retakan Terlihat di Sejumlah Titik

Dokumentasi yang diambil tim 1Pena.id memperlihatkan kondisi saluran yang patut mendapat pemeriksaan teknis.

Pada bagian bibir atas saluran, terlihat retakan melintang yang memisahkan sebagian permukaan beton. Di beberapa titik lain, permukaan plesteran tampak mengalami retakan halus.

Tim juga mendapati celah memanjang pada pertemuan lantai dan dinding saluran. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi kebocoran ketika saluran mulai dialiri air.

Selain itu, sejumlah bagian tepi saluran dengan kondisi tanah di sekitarnya yang perlu diperiksa, termasuk kepadatan tanah dan dukungan konstruksi pada sisi bangunan.

Meski keretakan terlihat secara visual, penyebab pasti kerusakan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan dokumentasi lapangan. Diperlukan pemeriksaan teknis untuk mengetahui tingkat kerusakan, potensi kebocoran, serta pengaruhnya terhadap kekuatan dan fungsi saluran.

Batu Padas dan Adukan Pasir-Semen Jadi Perhatian

Selain kondisi bangunan, material yang digunakan dalam pekerjaan tersebut turut menjadi perhatian. Berdasarkan temuan dan informasi yang dihimpun tim 1Pena.id, batu padas disebut digunakan pada bagian pekerjaan saluran.

Proses pencampuran pasir dan semen juga dipertanyakan karena diduga tidak menggunakan takaran yang terukur. Jika kondisi tersebut terbukti tidak sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan, hal itu perlu dievaluasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap mutu konstruksi.

Namun, penggunaan batu padas tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran atau menjadi penyebab keretakan. Kesesuaian material harus dinilai berdasarkan desain, spesifikasi teknis, dan ketentuan pekerjaan yang berlaku.

Demikian pula, dugaan tidak digunakannya takaran adukan perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan metode pelaksanaan, dokumen teknis, serta pengujian material apabila diperlukan.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah material dan metode pengerjaan yang digunakan telah sesuai dengan spesifikasi proyek yang dibiayai melalui program pemerintah tersebut.

Warga Pertanyakan Kualitas Pekerjaan

Kondisi saluran yang mengalami keretakan menuai keluhan dari warga yang melintas di sekitar lokasi. Mereka mempertanyakan kualitas pekerjaan yang disebut baru selesai, tetapi sudah menunjukkan kerusakan di sejumlah titik.

“Baru jadi sudah retak semua, dari ujung sampai ujung retak. Ini kan untuk air sawah, kalau retak begini airnya habis di jalan, tidak sampai ke sawah. Buang-buang uang negara,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.

Keluhan tersebut menjadi perhatian karena pembangunan jaringan irigasi tersier ditujukan untuk mendukung distribusi air ke lahan pertanian. Apabila kerusakan terbukti mengganggu fungsi saluran, manfaat proyek bagi petani dikhawatirkan tidak tercapai secara optimal.

Meski demikian, potensi kebocoran dan dampaknya terhadap distribusi air perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis serta pengujian fungsi saluran.

Anggaran Rp195 Juta, Perlukah Audit Mutu?

Dengan nilai anggaran mencapai Rp195 juta, masyarakat berharap pekerjaan P3-TGAI di Desa Gogodalem dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan memberikan manfaat nyata bagi petani.

Warga meminta Kepala BBWS Pemali Juana, Kepala Satker OP SDA Pemali Juana, serta tim pendamping P3-TGAI Kabupaten Semarang turun langsung untuk memeriksa kondisi bangunan.

Pemeriksaan diharapkan mencakup mutu material, komposisi adukan pasir dan semen, dimensi serta ketebalan konstruksi, kondisi sambungan, pemadatan tanah, dan kesesuaian hasil pekerjaan dengan dokumen teknis.

P3A Barokah I selaku pelaksana juga diharapkan memberikan penjelasan mengenai material yang digunakan, metode pengerjaan, pengawasan, serta langkah perbaikan yang akan ditempuh apabila ditemukan ketidaksesuaian.

Jika hasil pemeriksaan membuktikan adanya kekurangan pekerjaan, perbaikan perlu dilakukan sesuai rekomendasi teknis dan ketentuan yang berlaku sebelum pekerjaan dinyatakan memenuhi persyaratan penerimaan.

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kondisi Saluran Ini?

Hingga berita ini diterbitkan, tim 1Pena.id belum memperoleh keterangan dari P3A Barokah I selaku pelaksana mengenai temuan keretakan, penggunaan material batu padas, maupun dugaan proses pencampuran pasir dan semen tanpa takaran terukur.

Redaksi juga membuka ruang klarifikasi bagi BBWS Pemali Juana, Satker OP SDA Pemali Juana, tim pendamping P3-TGAI Kabupaten Semarang, dan seluruh pihak terkait untuk menjelaskan spesifikasi pekerjaan, hasil pengawasan, serta tindak lanjut yang akan dilakukan.

Publik kini menunggu pemeriksaan yang transparan dan objektif. Dengan anggaran Rp195 juta, masyarakat berhak memperoleh penjelasan mengenai mutu pekerjaan dan manfaat saluran irigasi yang dibangun.

Apakah keretakan tersebut hanya terjadi pada permukaan atau berpotensi mengganggu fungsi saluran? Apakah material dan adukan telah sesuai spesifikasi? Dan bagaimana hasil pengawasan terhadap proyek P3-TGAI di Gogodalem ini?

Jawaban atas pertanyaan tersebut perlu disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

(Tim Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed