Festival Wayang Semesta, Semarang Hidupkan Kembali Napas Tradisi di Hari Wayang Sedunia

banner 468x60

SEMARANG, 1Pena.id – Kota Semarang merayakan Hari Wayang Sedunia dengan penuh kemeriahan melalui gelaran Festival Wayang Semesta di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Jumat (7/11/2025). Acara ini menjadi bukti bahwa tradisi wayang masih berdenyut kuat di tengah kehidupan modern dan tetap dicintai lintas generasi.

Pada hari pertama, panggung disemarakkan oleh pementasan wayang kontemporer garapan para seniman muda. Kejutan hadir saat legenda komedi tanah air, Tri Retno Prayudati atau Nunung Srimulat, naik panggung dalam pertunjukan wayang orang. Lawakan khas Nunung memecah tawa ribuan penonton sejak awal hingga akhir pertunjukan.

banner 336x280

Keesokan harinya, Sabtu (8/11/2025), giliran penonton disuguhi wayang klasik, termasuk dari kelompok kondang Ngesti Pandowo serta kesenian bernuansa Keraton Jawa. Perpaduan antara tradisi dan inovasi menjadikan Festival Wayang Semesta terasa segar tanpa meninggalkan akar budayanya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memastikan festival ini akan menjadi agenda tahunan dalam kalender budaya Kota Atlas. Ia juga menargetkan festival ini sebagai panggung lahirnya generasi baru pelaku seni wayang.

“Harapan kami, dalam satu tahun sudah bisa menyiapkan pemain wayang orang dari generasi muda,” ujarnya.

Sebagai langkah nyata, Pemkot tengah menyiapkan Akademi Wayang, lembaga pembelajaran layaknya pesantren seni tempat anak-anak “nyantri” mempelajari karakter, dialog, hingga tampil dalam pertunjukan nyata. Sebanyak 50 anak akan mengikuti pelatihan gelombang pertama yang dibiayai dari APBD.

Targetnya, pada Hari Wayang Sedunia tahun depan, para peserta sudah siap mementaskan satu lakon penuh bersama Ngesti Pandowo.

Selain regenerasi, Pemkot juga menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian warisan budaya. Gedung Ngesti Pandowo, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional, akan direstorasi. Tahap pertama mencakup renovasi fisik, disusul penyempurnaan interior dan kostum tahun depan.

“Baju-baju lama akan kami rawat sebagai heritage, tapi kami juga siapkan kostum baru agar tetap layak dan menarik,” jelas Agustina.

Komitmen pelestarian budaya juga tampak dari penambahan ikon kota. Dua patung baru, Bima dan Srikandi, kini berdiri gagah di Jalan Pahlawan Semarang — hasil kolaborasi CSR antara Sidomuncul dan Bank Jateng.

“Ke depan, kami ingin patung Pandawa Lima lengkap menghiasi kota. Dan tentu, tokoh Semar sangat penting untuk ikut hadir,” pungkasnya.

Festival Wayang Semesta menjadi simbol semangat pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Tradisi bukan sekadar nostalgia, melainkan energi hidup yang terus diperjuangkan dan diwariskan untuk generasi penerus.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan