Semarang,1pena.id — Praktik penyelewengan BBM bersubsidi kembali tercium di Kota Semarang. Sebuah truk box bernopol D 1168 PUL terpantau melakukan pengisian solar subsidi berulang kali di sejumlah SPBU berbeda, diduga menggunakan barcode ganda atau barcode palsu serta plat nomor yang tidak sesuai. Aksi ini menimbulkan dugaan kuat adanya praktik terorganisir yang merugikan negara dan masyarakat.
Tim media melakukan investigasi lapangan pada Kamis (20/11/2025) dan mengikuti pergerakan truk tersebut dari SPBU Sampokong, lalu berpindah ke SPBU 44.501.33 Kembang Arum Kalipancur, dan berlanjut ke SPBU 44.501.20 Manyaran. Pola pergerakan cepat dan terencana ini menguatkan indikasi bahwa kendaraan tersebut sengaja dioperasikan untuk menyerap BBM subsidi dalam jumlah besar.
Saat dimintai keterangan, sopir truk hanya menjawab singkat:
“Saya hanya sopir, itu punya bos TH.”
Pernyataan tersebut membuka dugaan adanya aktor lain yang berada di balik kegiatan ilegal ini.
Praktik pembelian BBM bersubsidi menggunakan barcode ganda, barcode palsu, maupun manipulasi nomor polisi merupakan pelanggaran serius yang tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghambat hak masyarakat kecil yang berhak menerima BBM subsidi.
Kasus seperti ini sudah berulang terjadi di berbagai daerah dan disinyalir merupakan jaringan terstruktur. Karena itu, publik mendesak agar aparat penegak hukum bertindak cepat.
APH dan BPH Migas Diminta Turun Tangan
Dugaan pelanggaran ini mendapat sorotan banyak pihak. Aparat Penegak Hukum (APH) serta BPH Migas diminta segera melakukan investigasi menyeluruh.
Pengawasan ketat diperlukan untuk memastikan praktik manipulasi QR Code, plat nomor, dan pembelian berulang tidak terus terjadi.
Masyarakat berharap agar SPBU-SPBU terkait segera diperiksa, termasuk sistem verifikasi barcode yang digunakan, alur transaksi kendaraan, hingga rekaman CCTV sebagai barang bukti.
Penyelewengan BBM subsidi merupakan tindak pidana dan dapat dijerat UU Migas, termasuk pelaku lapangan hingga pemilik atau koordinator operasional.
Kasus ini akan terus dikembangkan oleh tim media 1pena.id untuk mengungkap pihak yang paling bertanggung jawab.



















