1pena.id – Dunia pendidikan dasar di Indonesia tengah mengalami pergeseran pola komunikasi yang signifikan. Jika sebelumnya instruksi pekerjaan rumah (PR) disampaikan langsung kepada siswa melalui papan tulis dan penjelasan guru di kelas, kini banyak sekolah dasar menggantinya dengan pengumuman di grup WhatsApp orang tua.
Perubahan ini memunculkan pertanyaan mendasar dari para wali murid: siapa sebenarnya yang sedang bersekolah anak atau orang tuanya?
Pergeseran Peran di Sekolah Dasar
Dalam praktiknya, tidak sedikit tugas sekolah dasar yang hanya disampaikan melalui grup WhatsApp orang tua tanpa penjelasan langsung kepada siswa. Akibatnya, anak menjadi sangat bergantung pada orang tua untuk mengetahui, memahami, bahkan mengerjakan tugas.
Seorang wali murid siswa sekolah dasar mengungkapkan kegelisahannya,
“Yang sekolah itu anaknya atau orang tuanya? Kalau tugas hanya dikirim ke grup, anak jadi tidak belajar bertanggung jawab.”
Fenomena ini berpotensi menggerus kemandirian belajar siswa, sebuah kompetensi dasar yang justru seharusnya dibangun sejak pendidikan dasar.
Data Riset: Kemandirian Anak Terancam
Sejumlah riset pendidikan mendukung kekhawatiran tersebut. Penelitian Kemendikbudristek (2023) menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa SD meningkat signifikan ketika instruksi diberikan langsung oleh guru di kelas, dibandingkan melalui perantara orang tua.
Sementara itu, laporan UNICEF Indonesia (2022) menegaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada orang tua dalam proses belajar dapat menurunkan rasa tanggung jawab dan motivasi intrinsik anak, terutama pada jenjang sekolah dasar.
Digitalisasi memang penting, namun riset yang sama menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi pedagogis guru dan murid.
Beban Ganda bagi Orang Tua Pekerja
Masalah ini terasa semakin berat bagi orang tua yang bekerja dengan jam kerja ketat, seperti buruh pabrik, pekerja lapangan, atau karyawan shift.
“Saya kerja dari pagi sampai malam. HP tidak boleh dibawa. Anak saya sering ketinggalan tugas karena infonya baru saya baca malam,” ujar seorang wali murid.
Kondisi tersebut menimbulkan ketimpangan baru dalam dunia pendidikan dasar, antara siswa yang orang tuanya selalu aktif di grup WhatsApp dan mereka yang orang tuanya memiliki keterbatasan akses waktu maupun perangkat.
Peran Guru dan Fungsi Sekolah
Penggunaan grup WhatsApp sejatinya merupakan sarana komunikasi tambahan, bukan pengganti proses belajar-mengajar. Instruksi utama tetap seharusnya diberikan kepada siswa secara langsung di kelas, agar mereka belajar mendengar, mencatat, dan bertanggung jawab.
Jika papan tulis tidak lagi digunakan untuk menyampaikan tugas, maka esensi pendidikan dasar sebagai ruang pembentukan karakter dan kemandirian patut dipertanyakan.
Digitalisasi pendidikan di sekolah dasar seharusnya mempermudah ekosistem belajar, bukan memindahkan beban kerja guru ke pundak orang tua. Orang tua adalah pendamping pendidikan, bukan pengganti guru, apalagi sekretaris pribadi siswa.
Mengembalikan fungsi kelas sebagai pusat instruksi utama, dengan WhatsApp sebagai pelengkap komunikasi, adalah langkah penting untuk menjaga kualitas pendidikan dasar dan kesehatan sosial keluarga.















